Senin, 09 Februari 2015

Apa kata Bintang


Ku tak tahu apa yang terjadi

Pada hatiku ini
tak ku mengerti

Getar ini belum pernah ada
Tak pernah kurasakan
Selama ini

Malu-malu aku mengakuinya
Karena aku kini belum dewasa

sekarang kusering melamun dan juga ku senang bercemin
Mengapa ini

Berjuta cahaya datang padaku
Menari ditanganku
Menyanyikan lagu tentangnya
Duhai bintang mungkinkah
Yang kurasa

Apakah sudah saatnya

Untuk ku menyukai dirinya

Ini telah berlalu


Ada janji-janji yang masih kurawat sendirian
Setelah kau pergi meninggalkan.
Begitu pula rindu yang malah semakin besar
Justru disaat engkau sudah tak mau tahu
Memaksaku menahan nyeri dan pilu.
Dan,
Bila kemudian engkau datang kembali
dengan janji dan harapan...
Aku tidak tahu lagi dengan apa pedih kutahan
dan nyeri kusembunyikan.
"Saat membayangkan engkau
dengannya masih Saling Menggenggam!"
Semesta sengaja mengadakan waktu
Pada saat senja, sebab :

"Ada sedih yang harus diantarkan ketika cinta cuma bisa merindukan!

Lupa ya ?



Lupa ya? 

Kita pernah berjuang bersama-sama 
Namun kamu dengan seketika berhenti 
Dan meninggalkan semuanya sebelum perjuangan itu berujung.. 
Kamu lupa ya? 
Saat masa dimana aku punya rasa, 
Punya harapan dan segenggam cinta 
Namun itu menurutmu hanya speak speak belaka! 
Ini memang terlihat tidak realistis.. 

Kamu lupa ya? 
Ini tahun keberapa, ini bulan keberapa, dan hari, 
Atau bahkan mungkin menit dan detik yang keberapa kalinya aku memiliki Asa dan harapan itu? 

Ya.. 
Mungkin kamu lupa !! 
Atau mungkin 
Bukan hanya sekedar lupa.. 
Bahkan kamu memang sudah benar-benar tidak mengingatnya

Sepertinya aku mengagumimu


Awalnya matamu dan senyummu tak berarti apa-apa bagiku
Sapa lembutmu, tutur katamu
Bukan menjadi alasan senyumku disetiap harinya.
Semua mengalir begitu saja!
Tatapan matamu, mulai menjadi hal yang tak biasa bagiku
Caramu mengungkapkan pendapat
tak lagi menjadi hal yang kuhadapi dengan begitu santai.
Ku katakan pada selembar kertas untuk diam-diam mengintip namamu
Dan dengan diam-diam pula semuanya terangkai dalam benakku
Ku jinjitkan kaki agar diam diam aku bisa mendengar tawamu
Dan dengan diam-diam pulasemuanya terekam dalam  pita memoriku
Suatu hari, diam-diam mataku memotret sosokmu
di tengah keramaian yang membiru
Diam-diam tersimpan senyum di bibirku
Di hari lainnya, diam-diam celah buku memberikan ruang
untuk memaku pandanganku padamu
Aku hanya bisa tertawa dalam hati
dan diamdiam meninggalkanmu
Karena kau tak perlu tau bahwa diamdiam aku mengagumimu