Hari besar telah usai. Teman sekamarmu menikahi seorang pria yang telah mengaggumkan dan Kamulah sang pendamping wanita. Kamu berbagi sukacita dengan teman sekamarmu, tetapi sekarang kamu bergumul dengan cengkeraman rasa iri yang menyakitkan. Saat pasangan yang berbahagia menuju bulan madu yang sempurna, kamu duduk sendirian dalam sebuah apartemen yang kosong, menenggelamkan rasa irimu dan rasa mengasihani dirimu dengan setengah galon es krim.
Apakah skenario ini tidak asing lagi?
Pernahkan kamu mengasumsikan bahwa pemenuhan terbesarmu akan didapati didalam pernikahan? Pernakah kamu secara pribadi berpendapat bahwa wanita-wanita terpuaskan hanyalah mereka yang menikah? Pernakah kamu berharap bahwa karirmulah yang akan memuaskanmu sampai kamu menikah? Jika kamu menjawab "Ya" terhadap salah satu pertanyaan dari pertanyaan-pertanyaan ini, maka dapat diperkirakan bahwa kamu akan terancam kekecewaan dimasa depan. Dibelakang halaman sampul buku "Learning to Be a Woman" (Belajar Menjadi Seorang Wanita) ada sebuah kutipan kunci mengenai kepenuhan hati sebagai seorang wanita: "Seorang wanita tidaklah terlahir sebagai seorang wanita. Ia pula tidak menjadi wanita saat ia menikahi seorang pria, mengandung seorang anak, dan mencuci pakaiannya, bahkan tidak juga waktu ia bergabung dengan gerakan pembebasan kaum wanita. Seorang wanita menjadi seorang wanita saat ia menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan baginya. "Kebenaran yang tak ternilai ini dapat menjaga sudut pandangmu teteap jernih terhadap pemenuhan yang sejati didalam hidup. Terlalu banyak wanita kristen yang berfikir bahwa kerinduan terdalam hati mereka hanyalah mengenai cinta, pernikahan dan menjadi seorang ibu. Jika kamu perhatikan lebih seksama, kamu akan melihat kerinduan itu bukanlah kerinduan yang bagi Yesus.

sumber: International book lady in waiting -